Jumat, 21 Maret 2014

Pertemuan tak terduga

Mau sampe kapan kamu menyalahkan diri sendiri, gerutunya dalam hati.

BRUK!
"Aduh!!"
"eh, sorry sorry ga liat" 
  
Ia beraduh kesal, dilihatnya cowo berkulit putih yang asing dipandangnya selama Rani bersekolah disini. 
Setelah ia sudah yakin mampu berdiri tegak, dipandangnya uluran tangan dari cowo yang menabraknya tadi.
Tangan putih berbulu, halus dan memakai gelang berwarna merah yang terkesan macho. Rani yakin bahwa cowo itu sering berolahraga, karena dari bentuk badannya yang atletis.

"oyy, malah ngelamun. Mau gue bantuin ga? Kalo ga yaudah, gue buru-buru soalnya"
"Ga, mending ga usah. Udah lo sana urusin aja dulu kerjaan lo" keluh Rani.

Gila tuh cowo ga pengertian banget sih, udah nabrak masih aja ninggalin bukannya bantuin kek. Gerutu Rani dalam hati yang masih mempertahankan posisinya yang duduk. Tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkari pinggangnya dan membantunya berdiri. Rani kaget dan langsung menengok kebelakang.

"Kelamaan sih lo mikirin gengsi lo, by the way sorry. bye"

Rani tak memperdulikan sekitarnya ia terus berjalan ke arah kelasnya. Ia hanya tau kalo sekarang mata pelajaran matematika dengan guru Pak Soehandi. Mata pelajaran yang paling ia benci dan gurunya. Saat ia baru saja memasuki ambang pintu...
"Rani, Keluar. Ingat perjanjiannya bukan? Jika saya sudah masuk ke kelas tidak ada satu siswa pun yang boleh masuk setelahnya"
"iya pak,iya"
"Rani, sini saya minta tolong. Kamu ke guru piket dan mengambil absen untuk kelas ini. Saya lupa"
"iya pak"

Sialan. Hari ini Rani merasa dirinya lagi kena kutukan semenjak tadi pagi. Angkot yang ia tumpangi bannya bocor. Ia terkena cipratan lumpur di kaos kakinya saat hendak pergi ke gerbang sekolah. Lalu ditabrak oleh pria rese yang nyebelin itu. Sesampainya diruang piket "Bu saya disuruh ambil absen sama Pak Soehandi" "Kamu telat Rani?" "Iya bu hehehe" "Nyengir lagi, kalo telat itu disesali" "abis aku hanya ketinggalan 10 langkah dari Pak Soehandi bu" "yasudah, beliau memang pegang teguh kedisplinannya semenjak ia mengajar disini, Nih absennya" "Makasih ibu Cantik"

Bu Dewi, wanita paruh baya itu memang sudah dikenal Rani saat ia masuk kesekolah ini.Parasnya yang cantik serta aura keibuannya terpancar jelas, nyaman rasanya bila Rani didekatnya. Semenjak ia kehilangan seorang ibu kandungnya ia merasa kesepian semenjak umur 14 Tahun. Tanpa sadar ia sudah sampai di depan kelasnya XI IPS 2. Rani hanya berdeham untuk membasahi tenggorokannya yang kering, ia sering bernostalgia tentang ibunya di sekolah. Saat Rani hendak masuk, ia melihat sosok yang di kenalnya tadi pagi. Bukannya ia terlambat juga ? Kenapa ia memperkenalkan diri?

"hai nama saya Arifin Dermawan, Bisa dipanggil Arif. Saya pindahan dari SMA 1 Bekasi. Saya pindah karena..."
"Loh pak, dia kan terlambat bareng saya. Tapi ko dia diijinkan masuk?"
"Tenang-tenang rani, ia murid baru jadi saya tolerir. Sini absennya"

Semua mata dikelas itu melihat rani yang sedang memasang wajah kesal. Ia diperlakukan tidak adil kalo begini. ia langsung keluar kelas lalu duduk di taman yang kebetulan dekat dengan kelasnya. GAK ADIL geram rani.

"Tenang gue juga keluar ko, karena gue juga terlambat. Perarturan tetep perarturan ga ada yang namanya tolerir buat siswa baru, lagian yang bikin lo telat masuk juga karena gue yang nabrak lo"
"Ga usah jadi kaya pahlawan kesiangan deh"

Tawa cowo itu terdengar jelas di kuping rani.

"Kenapa lo? sakit? ketawa-ketawa ga jelas gitu" sinis rani
"Abis lo lucu, kalo ngambek mulutnya ga usah sok niruin bebek gitu hahahaha"
"Ih apaan sih, kita baru aja ketemu belum kenal lagi tapi lo udah ngolok ngolok gue"
"Hahahaha, yaudah yaudah kenalin gue arif" mengulurkan tangan kanan yang diingatnya tadi pagi.
"udah denger tadi dikelas" sinisnya
"Loh, yaudah kalo gitu. Nama lo siapa?"
"Bukannya Pak Soehandi udah nyebutin tadi"
"Ga denger"
"bohong"
"serius,elah nyebutin nama doang susah amat"

Ditariknya tangan rani yang tadi berada di atas buku yang dipegangnya.Tangan itu mungil ringan. Tampak kecil di genggaman Arif.

"Arif, Lo?"
"Rani" sambil melepaskan tangannya kembali

Jujur rani sangat terkejut saat arif yang tiba-tiba memesgang tangannya. Sama saat kejadian tadi pagi saat arif yang tiba tiba mengangkat saat ia terjatuh tadi, Rani suka tersentuh oleh hal hal kecil yang di lakukan teman cowonya di sekolah. Ia merasa berbeda jika arif yang melakukannya. Tulus. arif sepertinya tulus menolongnya tadi pagi.

Dipandangnya wajah arif di sebelahnya, kini ia sudah tertidur pulas di sebelah rani. Rani tidak tega membangunkannya. Jadi ia mengisi kekosangan di taman yang sepi ini dengan melukis sketsa muka arif. Damai, tanpa pikiran, bebas, serta nyaman.

Rani tersadar saat itu. Ia bukannya menolak untuk jauh dari arif tapi perasaan nyamannya berada disamping arif lah yang membuatnya tetap tinggal. Murid baru yang baru dikenalnya