Minggu, 30 Juni 2013

Gengsi Vs Kangen

Entah gimana atau harus gimana.
Kalo belum ngelewatin malem malem yang bener bener kosong.
Kamu cuman bisa denger nafas kamu sendiri.

Kayanya berasa berat banget ngelewatin malem itu. Kenangan masa lalu pun satu satu, udah mulai datang kepikiran kamu.
Fikiran kamu emang fokus ke satu kenangan. Biasanya sih, kenangan sama seorang yang lagi di kangenin.

Dan. Otomatis kamu pasti ngelukis wajah itu. Wajah seseorang yang ga asing kamu lihat wajahnya. Kamu juga bakal kangen banget sama suara dia, cara tertawanya,cara dia tersenyum. Bayangin deh.

Sama... Saya juga pernah.

Mending kamu langsung aja deh bilang ke orang yang kamu kangen. Bilang kalo kamu "kangen."

Gengsi? Basi kalo kata temen saya. Sekarang mikirin gengsi ga ada habisnya.

Kamu mau kalo kangen kamu berakhir dengan gigit jari plus nangis ga jelas gitu? Cuman gara gara ketutup sama gengsi kamu yang besar itu?

Saya juga pernah ngelawan gengsi itu....
Dan..... Saya ga bisa .

Ngomong emang gampang, tapi bener juga. Mikirin gengsi juga ga bakal ada habisnya.

Tapi bukan itu yang saya masalahkan.
Yang saya pikirin itu mental saya. Mental saya harus kuat nerima semua kemungkinan jawaban. Jawaban yang keluar dari mulut dia setelah saya bilang "kangen."

Saya tetep berharap kalo rasa kangen saya, ditimbal balik.
Tapi.... Kalo iya kenyataannya 180 derajat terbalik? Apa saya tetep gigit jari plus nangis ga jelas?

Tenang.....
Saya juga pernah mencobanya...
Ternyata hasilnya jauh dari harapan..
Emang lebih menyakitkan sekaligus melegakan.

Saya pernah merasa kangen. Dengan tekad sekaligus rasa PD 99,99% kalo rasa kangen saya bakal dibales dengan rasa kangen balik dia.

Hasilnya? Dia ga respon banyak. Malah kesannya kaya biasa aja. Datar. Bahkan saya merasa kalo dia itu merasa risih terhadap saya.

Emang awalnya NYESSS!!! Bikin hati sakit. Fikiran kacau balau. Bahkan ga peduli sama keadaan sekitar.

Tapi..
Asal kalian tau aja. Setelah itu saya ga pernah ada beban lagi tentang beban "kangen." terhadap seseorang itu. Sumpah deh Suer.

Karna saya tau..
Orang yang saya kangen selama ini, emang udah ga pantes buat dikangenin.
Karna percuma dan sia sia. Pada akhirnya juga dia ga bakalan "kangen." balik ke kita.

Jadi kamu bisa coba cara saya tadi.
Urusan gengsi? Belakangan aja.
Toh kamu tetep bakalan gigit jari plus nangis ga jelas.

Jumat, 21 Juni 2013

Scare

Saya pikir waktu itu saya sedang bermimpi, bermimpi dalam kesakitan ini. Saya tak bisa lagi merasakan gerakan tubuh yang saya inginkan dalam otak saraf ini. Saya pikir ini akhir hidup saya. Saya terbangun lalu menangis.
Entah bagaimana saya tidak bisa merasakan air mata ini jatuh dalam usapan lembut saya. Saya menangis bukan karna kesakitan. Saya menangis melihat JASAD yang ada dihadapan saya. Jasad yang saya kenal. Bentuk tubuhnya, mulut, bibir, hidung, pipi, rambut semuanya. Saya mengenalinya. Tak lain sosok jasad itu adalah saya. Saya menangis. Saya pikir ini hanya mimpi. Tapi ini terlalu nyata untuk dilihat. Saya lihat lagi sebaik baiknya memastikan apakah benar dugaan saya?

"Tuhan kenapa Kau terlalu cepat ambil diriku"
Saya langsung berfikir dengan cepat. Lalu apa yang saya lakukan selanjutnya? Tidak ada yang menjemput saya? ah tak peduli. Saya tetap menangis. Saya melihat  jam dinding yang berada di dalam kamar dan kulihat masih jam 2 dini hari. Kok aneh? apakah ini mimpi?

Tiba tiba sosok dari samping lemari mengagetkan saya.

"kamu siapa?"

Perawakan tinggi berambut acak acakan dan berpakaian rapih tapi compang camping. Saat saya melihat wajahnya. Terlihat biasa saja. Tak ada satu pun noda ataupun jerawat dimukanya. Lalu kenapa berpakaian seperti itu?

"Kamu selalu melakukan hal ini. Tapi kamu selalu kembali tidur sambil melihat benda kecil yang didekatmu. Aku sosok yang kamu lihat waktu itu. Kamu begitu takut. Padahal aku hanya ingin menyapamu"

Saya seperti tersambar petir. Diam begitu lama. Berfikir keras arti kata-kata itu. Seperti bahasa yang saya tidak pernah saya dengar. Mencernanya seperti bayi yang kesusahan mencerna nasi. Saya juga merasakan mulut ini terbuka agak lebar. Kurasakan langkahku mundur satu dua langkah.

"Tapi kan.." Saya memegang muka
"Ya benar itu muka saya pada saat terakhir saya berada dijasad saya. Kamu ingat? maafkan saya yang telah menakutimu. Ini muka saya sebelum kecelakaan itu terjadi"
"kecelakaan apa?"
"Saya meninggal dan sudah berada disini sekitar 100 tahun. Tanah ini milik kakek saya. Saya meninggal pada saat saya berusia 19 tahun. Saya disuruh bersembunyi di Perkebunan kakek oleh orangtua saya karena pada saat itu perang antara pribumi dengan belanda. Mereka awalnya baik terhadap bangsa kita tapi pada akhirnya mereka menyuruh warga pribumi bekerja keras siang dan malam untuk membangun sebuah jalan dan bangunan. Tanpa dikasih makan dan upah"

Saya melihat perubahan bentuk wajah pada pemuda ini. Darah yang keluar dari hidung dan telinganya membuat saya menutupi mulut saya yang menganga terkejut atas perubahan itu.

"BIADAB MEREKA SEMUA"

Suara teriakan itu membuat saya semakin takut atas perubahan dratis yang ada pada pemuda itu. Saya berusaha keras menutupi ketakutan dan suara tangis saya. Tiba tiba tangisan saya pun tak terbendung lagi. Membuat pemuda itu menoleh. ASTAGA. Matanya putih! Darah di seluruh muka dan badannya. Kaki yang sudah patah hingga terlihat bagian tulangnya. TUHAN! Tangisan saya semakin menjadi. Tatapan pemuda itu yang pada awalnya menajam sekarang sudah terlihat seperti tatapan yang merasa bersalah. Bola mata yang awalnya putih pucat. Kini sudah kembali seperti sebelumnya. Entah kapan lebih tepatnya ia berubah lagi seperti saat bertemu saya.

"Maafkan saya. Saya memang tidak bisa menahan emosi ini. Saya ingin membalas dendam terhadap mereka yang membunuh keluarga saya. Maaf jika itu membuatmu takut"

Saya hanya terdiam dengan tangan menutupi mulut ini. Saya tarik nafas dalam dalam untuk bisa mengontrol nafas ini.

"Lalu?"
"Kau bisa keluar dari jasad mu sesuka hatimu. Entah bagaimana kamu melakukannya. Saya yang menjaga jasadmu agar tidak dimasuki arwah jahat diluar sana"
"Jadi selama ini aku mimpi melihat jalan,rumah,sekolah pada malam hari itu..."
"Ya itu arwahmu sendiri. Kamu kadang kadang bisa mengingat semuanya dan kadang kadang kamu lupa semuanya"

 Saya masih tidak mengerti. Mimpi saya yang begitu nyata. Apa mimpi ini yang terlalu mengerikan. Saya masih tidak bisa mencerna apa yang saya pikirkan. Masalah ini terlalu komplex untuk dipikirkan.

"Coba kamu berbaring di kasur itu. Kamu masih bisa melakukan sesuatu pada tubuh mu itu. Semuanya bakal kembali normal kaya sebelumnya. Saya sebenarnya iri sama kemampuan kamu yang bisa keluar dari tubuhmu sendiri. Ah sudahlah kamu pasti risih dengerin ocehan saya. Cepat kembali"

 Tanpa tunggu basa basi. Saya langsung melakukan apa yang dia suruh. Bukan karna saya ingin cepat kembali ke dalam tubuh saya. Tapi karna saya takut dengan kejadian tadi. Kejadian saat dia berubah menjadi wajah yang menakutkan.

Saya takut.

Saya hanya menceritakan apa yang saya alami.
Coba deh kalian cek sebelah lemari yang ada di kamar kalian. Setelah baca ini. Mungkin sosok yang kalian pernah temui dalam mimpi itu kenyataan. Mereka hanya ingin bercerita. Bercerita tentang kehidupan yang dulu. Dan... Jangan kaget jika mereka sedang marah. Dan ucapkan hai dengan mimik muka berbeda..